Perayaan Hari Raya Saraswati di SMA Negeri 1 Bebandem
Oleh : I Gede Deswara Putra
Indonesia merupakan suatu bangsa yang besar dengan keberagaman suku, ras, tradisi, adat-istiadat, serta kebudayaan. Keberagaman tersebut menyebar hampir diseluruh wilayah Indonesia dan menjadi ciri atau identitas setiap daerah. Identitas itu melekat pada manusia atau masyarakat yang tinggal di dalamnya. Salah satu daerah yang sangat unik dan menarik adalah Pulau Bali yang sering disebut sebagai Pulau Dewata. Mayoritas penduduk Pulau Bali beragama Hindu yang tercermin pada tradisi, adat-istiadat, dan kebudayaan yang berkembang. Menurut Koentjaraningrat (2002:180), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia yang belajar.
Kebudayaan sering kali tak mampu mengenalikan dinamika sosial ke arah bagaimana yang dirancangkan. Ada perkembangan sosial, ekonomi, dan politik yang memiliki orbitasi, irama, domain, dan dinamikanya sendiri. Namun, nilai-nilai kearifan budaya lokal itu jika tidak kita jaga dan pelihara, dikhawatirkan secara berangsur akan punah (Anshoriy, 2008:2). Kebudayaan memiliki tujuh unsur pokok yang dapat ditemui disemua bangsa di dunia. Unsur itu diantaranya; bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, teknologi, mata pencaharian, kesenian, dan religi (Koentjaraningrat, 2002:204). Religi menjadi unsur utama dan paling penting bagi masyarakat Bali, karena tidak hanya menjadi bentuk keyakinan serta kepercayaan tapi juga mencakup segala aspek kehidupan, baik itu ekonomi, sosial-budaya, bahkan politik. Salah satu bentuk religi itu tumbuh berkembangan terkait dunia pendidikan, yaitu peringatan Hari Raya Saraswati.
Hari Raya Saraswati merupakan perayaan penting dalam agama Hindu, khususnya di Bali, yang dirayakan setiap 210 hari sekali atau 6 bulan sekali pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Saraswati berasal dari dua kata yakni “saras” dan “wati”. Saras berarti mengalir layaknya air dan wati berarti memiliki. Jadi, Saraswati adalah hal yang mengalir dalam kehidupan. Dalam hal ini ilmu pengetahuan selalu hadir dalam setiap kehidupan tanpa mengenal usia, tanpa mengenal jenis kelamin, dan perbedaan lainnya. Perayaan ini mengandung makna turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia dan penghormatan terhadap Dewi Saraswati, dewi pengetahuan, kesadaran, dan sastra. Dewi Saraswati diyakini sebagai sakti dari Dewa Brahma, dewa pencipta dalam mitologi Hindu. Hari Raya Saraswati menjadi hari yang penting bagi siswa dan siswi sekolah dalam dunia pendidikan, karena ilmu pengetahuan dianggap sebagai bekal dalam kehidupan manusia yang dapat menuntun ke arah kemakmuran, kemajuan, dan perdamaian. Pada hari ini, umat Hindu melakukan persembahyangan dan persembahan kepada Dewi Saraswati di pura, sekolah, dan rumah masing-masing. Selain itu, mereka juga menghaturkan banten Saraswati. Selain perayaan Saraswati yang sarat akan makna, terdapat pula mitos yang beredar pada masyarakat yang berisi bahwa ketika Hari Raya Saraswati telah tiba, orang-orang tidak diperkenankan untuk belajar atau membuka buku. Sehari setelah hari raya ini, umat Hindu akan melakukan tradisi Banyupinaruh dengan datang pada pagi hari sebelum matahari terbit ke sumber-sumber air terdekat seperti pantai, sungai, dan sumber mata air lainnya untuk menyucikan diri.
Hari Raya Saraswati pada tahun 2023 jatuh pada hari Sabtu tanggal 20 Mei 2023. Untuk memperingati hari raya Saraswati, seluruh sekolah yang ada di dalam wilayah provinsi Bali mengadakan perayaan hari raya tersebut. Salah satunya di sekolah SMA Negeri 1 Bebandem yang berlokasi di Jalan Raya Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. Seluruh warga sekolah sangat semangat dalam menyambut hari raya Saraswati.
Untuk menyambut Hari Raya Saraswati sekolah SMA Negeri 1 Bebandem mengadakan beberapa kegiatan diantaranya, mengadakan suatu perlombaan, menghias Padmasana/Pelinggih, membuat penjor, dan menyiapkan sarana upacara seperti banten dan hewan qurban. Seluruh warga sekolah sangat semangat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jumat, 19 Mei 2023 tepatnya 1 hari sebelum perayaan hari raya saraswati dimulai. Semakin berkembangnya zaman orang-orang saat ini cenderung menggunakan teknologi sehingga melupakan tradisi serta ajaran ajaran yang diberikan para leluhur kita. Salah satu contohnya, orang orang cenderung membeli banten di pasar daripada harus membuat sendiri. Selain itu gamelan-gamelan gong dan trisandya saat ini banyak yang menggunakan menggunakan speaker karena semakin berkembangnya teknologi. Dalam mengatasi masalah tersebut ada 3 lomba yang diselenggarakan diantaranya :
1. Lomba Trisandya
Lomba Trisandya ini wajib diikuti oleh seluruh kelas X hingga kelas XI. Setiap kelas wajib mengirim 1 orang perwakilan siswa bebas entah itu siswa atau siswi. Lomba ini diadakan dengan tujuan mencari dan meningkatkan bakat siswa serta menyadarkan akan pentingnya pelaksanaan Trisandya. Trisandya merupakan proses penyucian diri untuk menghilangkan sifat-sifat negatif yang disebabkan oleh pengaruh “guna” dan meningkatkan sifat sifat positif “sattwam” dalam diri manusia.
2. Lomba membuat Banten Saraswati dan Daksina Penghias
Lomba ini wajib diikuti oleh seluruh kelas XI. Setiap kelas wajib mengirim 1 tim yang terdiri dari 5 orang perwakilan bebas entah itu siswa atau siswi. Masing masing peserta membuat 5 banten saraswati dan 2 daksina penghias. Lomba ini diadakan dengan tujuan menambah kreativitas siswa dan melestarikan budaya agar tidak hilang seiring berkembangnya zaman serta meningkatkan kerja sama antara satu sama lain. Banten Saraswati merupakan bagian yang sangat penting dalam hari raya saraswati. Banten saraswati merupakan sesajen yang memiliki unsur unsur yang penting didalamnya. Banten Saraswati terdiri dari daksina, beras wangi dilengkapi dengan air kumkuman yang diaturkan pada pustaka-pustaka suci. Dalam banten Saraswati tersebut, disertakan jaja cacalan (kue dari beras) yang berbentuk cecek (cicak dalam bahasa Indonesia) sebagai simbol Saraswati.
3. Lomba membuat Banten Pajegan
Lomba ini wajib diikuti oleh seluruh kelas X. Setiap kelas wajib mengirim 1 tim yang terdiri dari 5 orang peserta bebas entah itu siswa ataupun siswi. Lomba ini diakan dengan tujuan menambah kreativitas serta meningkat kerjasama antar satu sama lain. Banten Pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian buah buahan, jajanan dan bunga yang dikreasikan oleh umat Hindu. Banten Pajegan memiliki makna yang sangat penting, terlihat dari bentuknya yang menjulang seperti gunung, makin keatas makin mengerucut, dan di atasnya juga diletakkan canang dan sampiyan sebagai wujud persembahan dan bhakti kehadapan Tuhan sang pencipta alam semesta.
Siswa atau siswi yang tidak berpartisipasi dalam lomba ikut melaksanakan kegiatan lain. Setiap kelas dibagi dalam melaksanakan tugas, kegiatannya antara lain menghias Padmasana/Pelinggih, membuat Penjor, dan pembersihan area sekolah. Selain itu, siswa yang mengikuti ekstra tabuh, tembang, dan tari melakukan sesi latihan untuk melakukan persembahan keesokan harinya. Ekstra tari mempersembahkan tari rejang sari. Bukan hanya dari murid saja tetapi guru-guru juga ikut mempersembahkan sebuah tari yaitu tari rejang renteng.
Dengan diadakannya kegiatan-kegiatan tersebut seluruh siswa atau siswi diharapkan mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga, di antaranya meningkatkan semangat dalam bergotong royong, meningkatkan kreativitas, meningkatkan interaksi antar sesama, serta hal yang paling penting adalah melestarikan budaya dan tradisi meskipun saat ini zaman sudah modern dikelilingi oleh teknologi yang semakin canggih dan masih banyak lagi pembelajaran yang bisa diambil dari kegiatan tersebut. Pelaksanaan Hari Raya Saraswati tidak hanya dilakukan oleh para siswa namun semua kalangan masyarakat Hindu entah dari kalangan anak- anak hingga dewasa. Ini menandakan bahwa sebagai manusia yang dilahirkan dengan derajat yang lebih tinggi dari hewan, tumbuhan, dan makhluk dunia bawah memiliki pengetahuan tinggi yang harus selalu diasah.
Bebandem, Agustus 2023
DAFTAR PUSTAKA
Anshoriy, Nasrudin. 2008. Pendidikan Berwawasan Kebangsaan (Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikulturalisme). Yogyakarta: PT LkiS Pelangi Aksara.
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.