Page 3 - USABA EMPING
P. 3
Setelah krama selesai muspa, dilanjutkan dengan meprani (majang). Ini merupakan salah satu
hal yang unik yang ada di Usaba Emping. Unik karena adanya prosesi melempar lemparkan
(mesantalan) sesaji setelah didoakan. Mesantalan (melempar lemparkan sesaji) ini memiliki arti
yang mendalam yaitu sebagai rasa syukur atas berkah dan anugrah dari Ida Shang Hyang Widhi
Wasa sehingga masyarakat bisa menghasilkan prani yang diinginkan. Selain itu, mesantalan ini
juga memiliki nilai makna yaitu bagaimana agar bumi dan udara dapat Harmonis sehingga
dengan keharmonisan antara bumi dan udara ini akan menyebabkan tanaman atau tumbuh-
tumbuhan bisa tumbuh subur dan sesuai yg diharapkan.
Foto Meajang dan Mesantalan
(foto bersumber dari media sosial krama Adat Abiantihing)
Pada hari Pengebek dan Pemelayagan akan ada prosesi mabuwang yg dilakukan oleh 4
Tempek yaitu Tempek Kaja Kangin, Kelod Kangin, Kelod Kauh,dan Kaja kauh. Dengan kode
warna merah, putih, kuning, dan hitam.
Foto Mabuwang Tempek Selem (Hitam), Kuning, Putih dan Barak (merah)
(foto bersumber dari media sosial krama Adat Abiantihing)
Mabuwang dilakukan dengan mengelilingi pura sebanyak 12 kali. Tiga kali sebelum
pemuspaan, tiga kali sebelum meprani, tiga kali setelah meprani dan tiga kali setelah Ida
Bhatara Mabiasa. Pada saat berkeliling yang sembilan kalinya krama banjar yang mabuwang
mengeluarkan keris dari sarungnya seraya berteriak "uryakkk". Mabuang juga dilakukan pada
malam hari sebanyak 12 kali.
SMAN 1 Bebandem Proyek Penggalian Warisan Budaya

